Pelabuhan Panarukan di Situbondo, Jawa Timur, resmi siap beroperasi penuh usai uji sandar kapal sukses pada Februari 2026, menjanjikan kebangkitan ekonomi pesisir yang dulu gemilang di era kolonial. Kementerian Perhubungan konfirmasi dermaga sepanjang 176 meter ini mampu layani kapal 1.000 DWT, dorong logistik dan mobilitas penumpang di Jawa Timur.
Diskusi di forum seperti Jawa11 ramai soroti potensi ini, tapi kritik tajam muncul soal keterlambatan proyek sejak 2008 yang boros anggaran tanpa hasil cepat. Warga lokal khawatir manfaat tak merata, karena infrastruktur seperti causeway 925 meter lebih untungkan pengusaha besar daripada nelayan kecil yang masih kesulitan akses.
Infrastruktur Modern
Dermaga lebar 10 meter dan trestle 452 meter hasil rehabilitasi 2025, tambah kantor pelabuhan 2019, pastikan keselamatan bongkar muat. Uji sandar kapal Pertamina bukti teknis andal, proyeksikan arus barang naik signifikan untuk UMKM Situbondo. Namun, tanpa pengawasan ketat, risiko korupsi fasilitas mirip proyek pelabuhan lain berpotensi hambat efisiensi.
Dampak Ekonomi Lokal
Pelabuhan ini strategis kuasai rantai pasok pesisir, tingkatkan ekspor ikan dan pertanian, kurangi ketergantungan Tanjung Perak. Kerjasama Pemkab Situbondo-Pelindo target wisata pelabuhan bersejarah, ciptakan ribuan lapangan kerja. Kritikus nilai ambisius, tapi tanpa pelatihan warga, hanya jadi “proyek prestise” tanpa ubah nasib kemiskinan daerah.
Tantangan Ke Depan
Rehabilitasi dermaga 2 tahun ini janji tingkatkan kapasitas, tapi tantangan cuaca ekstrem dan sedimentasi pantai perlu radar modern. Sosialisasi KSOP ke pengguna jasa krusial agar adopsi cepat, hindari nasib pelabuhan terbengkalai sebelumnya.