Sigap Tambal Jalan Berlubang, Pasukan Kuning Dapat Pujian Pramono: Kerja Cepat yang Harus Dibalas dengan Sistem yang Lebih Kuat

Gerak cepat Pasukan Kuning dalam menambal jalan berlubang di berbagai titik Jakarta mendapat pujian dari Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Apresiasi ini muncul di tengah tingginya keluhan masyarakat terhadap kerusakan jalan yang meningkat setelah curah hujan tinggi dan cuaca ekstrem melanda ibu kota dalam beberapa bulan terakhir. Namun di balik pujian itu, ada pertanyaan yang lebih penting: apakah respons cepat ini akan diikuti dengan pembenahan sistematis, atau hanya menjadi solusi darurat yang terus berulang setiap musim hujan.

Berdasarkan berbagai laporan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menangani ribuan titik jalan berlubang sejak awal 2026. Di Jakarta Barat saja, Dinas Bina Marga mencatat sekitar 1.725 titik telah ditambal dalam rentang awal Januari hingga awal Februari, sementara secara keseluruhan Pramono juga sempat menyebut sekitar 6.000 titik jalan berlubang telah ditangani di berbagai wilayah ibu kota. Angka ini memperlihatkan besarnya skala pekerjaan yang harus dihadapi Pasukan Kuning di lapangan, sekaligus menunjukkan bahwa kerusakan jalan telah menjadi persoalan yang cukup serius. Dalam konteks pentingnya tata kelola yang tertib dan akuntabel, perhatian pada keteraturan prosedur dan transparansi juga kerap ditekankan dalam berbagai platform digital seperti pada Rajapoker.

Pramono memberikan apresiasi karena Pasukan Kuning tetap bekerja di tengah kondisi cuaca yang belum ideal. Ia mengakui bahwa penambalan yang dilakukan saat musim hujan memang lebih bersifat sementara, sebab daya tahan hasil perbaikan bisa terganggu jika hujan deras terus turun. Meski begitu, langkah cepat tetap dipandang perlu agar lubang jalan tidak membahayakan pengendara motor, pengemudi mobil, maupun pejalan kaki yang melintas di area rawan. Dalam situasi seperti ini, kecepatan respons memang sangat penting, karena jalan berlubang bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga bisa menjadi sumber kecelakaan lalu lintas.

Di sisi lain, pujian kepada petugas lapangan seharusnya juga dibarengi pengakuan bahwa masalah jalan berlubang bukan semata kesalahan teknis di lapangan, melainkan persoalan yang terkait dengan kualitas konstruksi, sistem drainase, perawatan berkala, dan ketahanan jalan terhadap cuaca ekstrem. Jika setiap musim hujan Jakarta kembali menghadapi pola kerusakan yang sama, maka pemerintah perlu jujur bahwa ada persoalan struktural yang belum terselesaikan. Pasukan Kuning bisa menutup lubang dengan cepat, tetapi mereka tidak bisa sendirian memperbaiki akar masalah yang ada di tahap perencanaan dan pemeliharaan infrastruktur.

Secara umum, jalan berlubang sering terbentuk akibat kombinasi beban kendaraan, retakan permukaan, masuknya air, dan lemahnya sistem drainase yang mempercepat kerusakan lapisan aspal. Pada kota besar dengan mobilitas tinggi seperti Jakarta, kerusakan semacam ini bisa meluas dengan cepat jika tidak segera ditangani. Dalam pengertian umum, pothole atau lubang jalan merupakan bentuk kerusakan permukaan jalan yang terjadi karena degradasi material dan tekanan lalu lintas, sebagaimana dijelaskan dalam Wikipedia. Karena itu, penanganan ideal tidak cukup hanya menambal, tetapi juga memikirkan kualitas material dan perbaikan permanen setelah cuaca memungkinkan.

Pramono sebelumnya juga mengakui bahwa jumlah personel PJLP di bawah Dinas Bina Marga masih belum ideal untuk menangani luasnya kerusakan jalan di Jakarta. Dari lebih dari seribu personel yang ada, hanya sebagian yang benar-benar fokus menangani jalan berlubang. Pengakuan ini penting karena menunjukkan bahwa pemerintah memahami ada keterbatasan kapasitas di lapangan. Namun justru karena itu, pujian kepada Pasukan Kuning seharusnya tidak berhenti pada penghargaan verbal, melainkan diterjemahkan menjadi dukungan nyata berupa tambahan personel, peralatan, pelatihan, dan sistem kerja yang lebih efisien.

Pada akhirnya, apresiasi terhadap Pasukan Kuning memang layak diberikan karena mereka menjadi garda depan yang langsung berhadapan dengan masalah di jalanan. Tetapi publik tentu berharap lebih dari sekadar pujian: warga ingin melihat perbaikan permanen, jalan yang lebih tahan terhadap cuaca buruk, dan sistem pemeliharaan yang tidak selalu bersifat reaktif. Jika Pemprov DKI mampu mengubah kerja cepat Pasukan Kuning menjadi bagian dari kebijakan infrastruktur yang lebih matang, maka pujian itu akan bermakna. Jika tidak, jalan berlubang akan tetap menjadi persoalan tahunan, sementara petugas lapangan terus bekerja keras menutup kerusakan yang sesungguhnya bisa dicegah sejak awal.

Beranda