Green Day, band punk rock legendaris asal California, berhasil mencuri perhatian jutaan penonton saat membuka Super Bowl LVIII di Allegiant Stadium, Las Vegas, pada Minggu malam waktu setempak. Dengan medley energik yang merangkum hits ikonik mereka seperti “American Idiot”, “Holiday”, dan “Basket Case”, penampilan ini menjadi sorotan utama half-time show yang diproduksi oleh Roc Nation. Alih-alih memanfaatkan panggung raksasa untuk pesan politik—seperti yang sering mereka lakukan di masa lalu—Green Day kali ini tampil polos, murni menghibur tanpa satu kata pun kritik sosial yang meledak-ledak.
Penampilan ini menuai pujian luas karena keberaniannya menjaga netralitas di tengah iklim politik Amerika yang panas. Bagi pengamat musik seperti yang dibahas di Jawa11, pilihan ini cerdas: Green Day menghindari risiko membagi audiens global Super Bowl, yang ditonton lebih dari 120 juta orang. Kritikus musik The Guardian menyebutnya “kembali ke akar punk yang mentah tapi inklusif”, sementara vokalis Billie Joe Armstrong tampil karismatik dengan gitar listriknya, memimpin kerumunan dalam nyanyian massal. Ini kontras tajam dengan penampilan mereka di festival sebelumnya, di mana lirik satir sering jadi senjata utama—kali ini, pesan tersirat justru kekuatan hiburan yang menyatukan.
Medley berdurasi sekitar 13 menit itu dirancang apik oleh produser spesialis Super Bowl, Usher sebagai headliner utama turun tangan memastikan alur lancar dari satu lagu ke lagu lain. Elemen visual seperti ledakan confetti raksasa dan proyeksi lirik raksasa memperkuat nuansa nostalgia 2000-an, membuat penonton dari berbagai generasi bergoyang. Data Nielsen menunjukkan rating half-time show naik 15% dibanding tahun lalu, bukti bahwa pendekatan apolitik ini efektif. Namun, di balik pujian, muncul kritik halus: apakah Green Day “melemahkan gigi punknya” demi mainstream? Pertanyaan ini menggugah diskusi di kalangan fans garis keras.
Secara keseluruhan, penampilan Green Day membuktikan evolusi band ini: dari provokator politik menjadi entertainer kelas dunia yang bijak memilih momen. Super Bowl bukan tempat revolusi, tapi pesta rakyat—dan mereka memahaminya dengan sempurna.
Untuk liputan lebih lanjut, kunjungi CNN. Kembali ke Beranda.